Tradisi dalam Perkawinan Adat Alas: Tangis Dilo

27 05 2013
dodi.leuser

dodi.leuser_jinto kude_adat Alas

Suku Alas mempunyai banyak tradisi kebudayaan yang unik-unik dan merupakan salah satu warisan untuk suku asli di Indonesia. Tradisi ini diwariskan oleh nenek moyang dari Suku Alas yang berada di Provinsi Aceh tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara dan sampai saat ini masih dipertahankan keasliannya. Tradisi yang sudah menjadi bagian dari adat istiadat dan kesenian daerah ini diantaranya yang sering kita lihat dan dengarkan adalah Tangis Dilo (Tangisan Sebelum Subuh), Pemamanen (Undangan dari Pihak perempuan), Melagam (Syair dalam bentuk cerita yang didramakan), Sesukuten (Cerita legenda, dongeng), Ngerane (berpantun) yang dilakukan oleh orang tua yang pandai bicara, Anggun Dodang (Mengayun Anak) dan masih banyak istilah adat istiadat, kesenian termasuk jenis tari-tarian yang menjadi tradisi sosial kebudayaan asli suku Alas Aceh Tenggara.

 

Disini kita hanya membahas mengenai tradisi kebudayan Tangis Dilo. Defenisi Tangis Dilo adalah tangisan pengantin sebelum waktu subuh. Tangis artinya menangis, dan Dilo artinya Waktu sebelum subuh, jika bulan puasa tepatnya waktu sahur, demikianlah kira-kira. Tangis dilo ini dilakukan oleh si pengantin perempuan kepada ibunya sebelum hari “H” upacara pernikahan si perempuan, dengan kata lain tangisan sebelum Ia meninggalkan orangtuanya (ibu) untuk pergi dan ikut suaminya. Tangis dilo ini dilakukan dihari yang sama, sebelum akad nikah dilakukan, atau jika besok sore pengantin wanita dijemput dan pergi ke tempat suami, maka pada waktu subuh dini harilah ia lakukan tangis dilo tersebut. Meskipun nada menyampaikan tangis dilo hampir sama dengan nada melagam, akan tetapi lirik dan syair tangis dilo tidak sama dengan lagam.

Berikut adalah syair dan lirik Tangis Dilo yang diucapkan oleh si pengantin perempuan kepada ibunya.

 

Eeuuuhh… heeeuuiiiiiiii, heiieiiieihh….. heiieiiieihh….. heiieiiieihh…..

Eeuuuhhh…

Aeuheeuuiihh…. Soh me bandu ameeeee eiiieiihh…..

Eiiieiihh… bekhas se selup de ame ku eeuuuhh…

Eeuuuhh… lawe se ntabu de ame ku ame aeehh…

Eiiieiihh… ken tukakh ganti ni anak ndu aku ame eeuuuhaeehh…

Kakhena sekadan wakhi no ameeeee aeiiieiihh….. e anak ndu aku de ame eeuuuhaeehh… senakhen ngantusi aeee… si kekukhangen bandu de ame ku…

Eeuuuhh… heeeuuiiiiiiii, heiieiiieihh….. heiieiiieihh….. heiieiiieihh…..

*) Disyairkan berulang-ulang.

 

Maksud dari syair tersebut adalah;

“Dia sudah berumah tangga, disampaikan beras satu bambu, air satu labu, sebagai tukar gantinya kepada ibunya, karena dulunya ibunyalah yang selalu mengerti dan mengayomi dia, baru saja Ia mengurus ibunya, dan belum sempat membahagiakan dan belum sempat memenuhi kekurangan ibunya, namun pada hari ini Ia sudah terlepaslah mengurus ibu sehari-hari”.

 

dodi.leuser_pangekhi_adat Alas

dodi.leuser_pangekhi_adat Alas

Begitulah kira-kira artinya yang disampaikan kepada ibunya disaat seorang anak perempuan akan pergi meninggalkan ibunya dan pergi ke tempat suaminya. Yang menyampaikan tangis dilo dalam adat alas ini adalah seorang perempuan sambil menyembah dan bersujud di pangkuan ibunya sambil menangis dan mengucapkan (bersyair) dengan kata-kata seperti yang dirangkai di atas kepada ibunya.

 

Jadi dalam acara adat Alas, apabila si pengantin perempuan besok hendak pulang ke rumah suaminya, ada acaranya seperti yang disebutkan di atas yaitu tangis dilo. Si pengantin perempuan memasukan beras dalam satu sumpit sebanyak satu bambu, kemudian air di isi dalam satu labu atau ceret. Acara ini dilakukan secara tersendiri dengan ibunya, yaitu disaat waktu subuh, maka didalam waktu yang singkat inilah dia sampaikan kepada ibunya melalui tangis dilo.

 

Dalam adat Alas, sebelum si perempuan atau yang menikah ini pergi ketempat suaminya, maka tangis dilo ini dilakukan sambil menyembah dan bersujud di pangkuan ibunya. Dapat kita rasakan sendiri, bahwa peranan ibu sangat begitu besar dalam kehidupan kita anak-anaknya, dan sesuai dengan ajaran agama agar selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua khususnya Ibu, karena surga berada di telapak kaki ibu.

 

Refrensi dan Sumber:

Description performer note: Yakub Pagan, 1982, “Tangis Dilo” Audio Visual;

Kartomi, Margareth J, The Kartomi Collection of Traditional Musical Arts in Sumatra;

http://arrow.monash.edu.au/hdl/1959.1/51882

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: